Skip navigation

Alkisah di suatu masa, di suatu padang pasir yang maha luas, tersebutlah seorang bapak musafir, anaknya yang masih belasan tahun & seekor keledai kecil. Bapak dan anak itu adalah 2 orang miskin yang berencana menuju suatu kota yang penuh harapan dengan mengendarai satu2nya keledai mereka.
 
Mereka ber3 menempuh perjalanan sejak pagi buta. Dalam perjalanan tersebut, ternyata ada sekumpulan burung yang memperhatikan mereka bertiga dari kejauhan. Sambil terbang dan bersenda gurau, salah seorang burung berkata “hei kawan2, lihatlah kesana. Kejam bener ya 2 manusia itu,1 keledai kecil dikendarai 2 manusia”.”Iya keterlaluan ya”,sahut yg lain. Maka salah satu burungpun mendekati bapak dan anak itu. “Wahai manusia, mengapa kalian tdk kasihan dengan kawan kami si keledai? Dia masih kecil tp harus menahan beban kalian berdua. Kalian manusia memang kejam”. Burung2pun mendengus dan berlalu. Si bapak lama berpikir, benar juga kata2 si burung tadi. Akhirnya iapun mengambil inisiatif untuk turun dari keledai kecil itu sementara si buah hati tetap di atas. Dan merekapun melanjutkan perjalanan.

Sampai kemudian, masih di padang yang tandus, mereka bertemu lagi dengan sekumpulan burung2 tadi. Betapa kaget burung-burung tadi melihat sang bapak berjalan kaki. Merekapun saling memberikan komentar “wah dasar anak durhaka”, “apa dia tdk ingat gmn bapaknya membesarkannya sampai dia membiarkan bapaknya jalan kaki”. Semua burungpun turut berkomentar, dan lalu salah seorang burung menghampiri untuk menyampaikannya.

Si anak berpikir benar juga. “Yah, ayah naek saja biarkan saya yang jalan kaki yah. Gantian yah”. Dan merekapun melanjutkan perjalanan.

Sampai di kemudian, lagi-lagi tak sengaja mereka bertemu dengan sekumpulan burung2 tadi. Burung2pun kaget kembali melihat sang anak berjalan kaki. “Wah anak sekecil itu disuruh jalan kaki, sementara bapaknya enak2an naek keledai”. “Iya, bapak macam apa tuh” yg lain pun tak mau kalah turut berkomentar. Karena kerasnya perbincangan burung-burung tadi, bapak-dan si anak sampai mendengar perbincangan itu.

Akhirnya bapak-anak itupun berdiskusi. Dan sepakat untuk turun semua. Mereka bertiga jalan semua. Tidak ada yang naik keledai. Dan merekapun buru-buru melanjutkan perjalanan sebelum senja datang.

Namun tak lama kemudian, terdengar suara tertawa2 keras dari belakang. Ternyata adalah suara tertawa dari kumpulan burung2 tadi. “Wah, lihatlah kawan2, ada 2 manusia bodohh!! Ngapain juga bawa keledai ke padang pasir kalau tidak dinaikin. Haha”. “Iya, katanya manusia punya otak?? Begooo” Yang lain ta kalah sengit menertawakan.

Bapak dan anak tadi jadi geramm. “LA TERUS KAMI HARUS GMN ???”. Tapi burung2 tiba2 diam. Bingung. “Iya ya, gmn ya?”. Yang lain menyahut asal “ya beli keledai 1 lagi dong, repot amat”. Dan ada yang menyahut lebih asal “uda keledainya tinggalkan saja disini bersama kami, kalian jalan saja”
Si bapak menghela napas.”Mana mungkin beli lagi, kami org miskin dan kami ke kota justru untuk menjual keledai ini. Jawaban kalian tiada beguna. Percuma kami mendengarkan omongan kalian. Kalian hanya memperlambat perjalanan kami. Permisi” Dan merekapun terus melanjutkan perjalanan. Menatap kedepan menyongsong kota yang sudah mulai terlihat.

Yah begitulah kisah bapak anak miskin dan seekor keledai kecil tadi. Saya agak2 lupa pernah membaca dari mana. Saya coba rangkai sendiri. Jadi intinya :  
(1)Keledai dinaiki 2 org, dibilang kejam
(2)Keledai dinaiki anak, dibilang anak durhaka
(3)Keledai dinaiki bapak, dibilang bapak tidak sayang anak
(4)Keledai tdk dinaiki,org bilang bodoh
So?

Dalam kehidupan kita, sudah terjadi atau suatu saat nanti, bisa jadi kita akan menemui kejadian2 seperti diatas. Membuat keputusan untuk hidup kita kadang tidaklah mudah. Apalagi jika kita hidup di lingkungan orang banyak. Memilih sekolah, memilih pekerjaan, memilih kawan, memilih pasangan hidup, memutuskan apapun untuk hidup kita kadang malah jadi ribet hanya karena omongan orang lain.

Pro dan kontra itu ada seperti adanya siang malam. Perbedaan pendapat itu memang seharusnya menjadi hal biasa. Jaman sekarang sepertinya kita sudah tdk bisa lagi mendengarkan, menuruti dan menyenangkan semua pihak. Asalkan kita punya prinsip dan apa yang kita putuskan itu benar, sebaiknya dijalankan saja..  

Dan sepertinya.. Kalo diliat-liat lagi ni, ada banyak manusia beh seperti burung2 itu. Semoga kita tidak masuk kedalam golongan orang-orang itu.  Orang-orang yang hanya suka menonton. Orang-orang yang hanya bisa berkomentar dan berkomentar. Tapi jika diminta pendapat balik, mereka bahkan tdk punya jawaban. Hmm

Jadi, fokus saja  dengan perjalanan menuju kota itu ya Pak Musafir. Jangan terlalu dianggap omongan burung2 tadi karena justru akan memperlambat perjalanan. Do the best n keep on growin!

*dedicated to siapa saja yang lagi galau.

4 Comments

  1. nice ^^ biarkan anjing mengguk-guk kafilah berlalu !!

  2. Haha betull

  3. ya.. benar ini adalah kisahnya Ali Imran dan anaknya.. nama salah seorang manusia yang sholeh yang namanya diabadikan didalam Kitab Suci Al Qur’an

  4. apapun yang kita lakukan selalu salah di mata orang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: